ABU NAWAS

>> Abu Nawas dan Telur Unta

Alkisah, pada zaman dahulu ada seorang laki-laki memiliki hidung mancung dan sedikit bengkok ke bawah seperti paruh burung beo, janggutnya runcing seperti janggut kambing, sorbannya tebal seperti bantal, rompinya terbuat dari sutera mengkilap dan bersulamkan benang emas, dan sepatunya berujung lancip seperti haluan kapal. Anda kenal siapakah leleki ini? Dia tidak lain adalah Hasan bin Hanik al-Hakami, atau yang biasa dikenal dengan panggilan Abu Nawas.

Abu Nawas adalah seorang seniman yang pandai mengubah syair. Ia dikenal sebagai orang bijak yan suka memberi nasihat dan pandai menguraikan m berbagai masalah yang pelik-pelik. Tetapi, ia pun juga pandai melucu, dan perbuatannya selalu kocak. Ada-ada saja akalnya untukmempermainkan orang, namun tanpa mempunyai maksud jahat. Karena itu, ia sangat disukai oleh banyak orang, terlebih-lebih oleh Sultan Harun al-Rasyid.

Pada suatu hari, Sultan Harun al-Rasyid merasa seluruh anggota badannya sakit-sakit. Entah apa yang menyebabkannya, namun rasa sakit sekujur tubuhnya itu lama-lama kian bertambah parah. Sehingga untuk berjalan terasa berat dan akhirnya beliau hamya berbaring saja di atas tempat tidur.

Sultan Harun al-Rasyid memanggil tabib istana untuk mengobatinya. Tapi hasilnya nihil. Tabib tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu Sang Sultan pun segera memerintah para pengawalnya untuk memanggil para tabib yang ad di kota Baghdad. Namun anehnya, sakit sang Sultan tetap saja belum bisa disembuhkan.

Mengetahui keadaannya tidak berubah, maka sang Sultan berinisiatif untuk mengadakan sayembara. Yaitu barangsiapa yang bisa mengobatinya, maka orang itu akan mendapatkan hadiah uang emas yang banyak. Beberapa pengawal pun segera menyebar ke seluruh negeri untuk mengabarkan adanya sanyembara tersebut.

“Kabar gembira….., kabar gembira, bagi siapa saja yang bisa mengobati sakit Baginda Sultan Harun al-Rasyid, maka dia berhak mendapatkanng emas yang banyak!”. Demikian kata seorang pengawal memberi kabar berita adanya sanyembara di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Dalam waktu yang singkat, berita adanya sayembara itu sudah menyebar ke seluruh negeri.

Karena hadiah yang ditawarkan dalam sayembara itu cukup menggiurkan, maka banyak sekali orang yang mengikutinya. Di antaranya tampaklah Abu Nawas. Meskipun ia bukan tabib, tapi dia nekat ingin mengikutinya. Karena itu tak heran bila ada yang sempat menegurnya, “Hai Abu Nawas, apa bisa kamu mengobati sakit sang Sultan, bukankah kamu bukan tabib?”.

“Engkau benar!” jawab Abu Nawas. “Tapi aku akan mencobanya. Bukankah sakit dan sembuh itu hanya Allah sendiri yang menentukan?”.

“Benar!, tapi…,” kata orang tersebut.

“Tapi apa?” tukas Abu Nawas.

“Tapi apa kamu bisa menemukan resep yang mujarab. Sebab sudah banyak tabib yang mencobanya, tapi tidak berhasil,” kata orang itu meragukan kemampuan Abu Nawas.

“Ya…, tapi janganlah lasung menyerah!” jawab Abu Nawas.

“Apa maksudmu berkat seperti itu?” kata orang itu.

“Maksudnya, bukan berarti kita hanya menyerahkan masalah yang diderita Sultan Harun al-Rasyid itu cuma kepada para tabib. Jadi kita juga harus berusaha dan mencobanya. Siapa tahu malah orang yang bukan tabib seperti saya ini kelak yang bisa mengobati sang Sultan dan berhasil memenangkan sayembara.”

“Baiklah, kalau seperti itu keyakinanmu. Aku hanya bisa mendo’akan saja semoga engkaulah yang menjadi pemenang sayembara ini,” kata orang tersebu tak bisa membantah alas an keikutsertaan abu Nawas dalam sayembara.

“Amin…, amin…!jawab Abu Nawas.

Hari itu pula, Abu Nawas berangkat menuju ke istana. Sesampainya di istana, ia langsung ditegur oleh Baginda Sultan Harun al-Rasyid. “Hai Abu Nawas, rupanya engkau ikut pula dalam sayembara yang kuadakan ini!”.

“Benar, Baginda,” jawab Abu Nawas.

“Apa kamu bisa mengobati penyakit ini?” tanya Baginda Harun al-Rasyid.

“Hamba akan mencobanya baginda. Hamba akan mencoba menerapkan car-cara yang belum pernah dilakukan oleh para tabib lain,” jawab Abu Nawas dengan penuh keyakinan.

“Cara apa itu Abu Nawas, coba terangkan?” pinta Baginda Harun al-Rasyid tak sabar.

“Tunggu sebentar Baginda. Sebab saya harus memeriksa Baginda terlebih dahulu!”.

“Kalau begitu cepatlah engks periksa aku. Sebab aku sudah tidak tahan lagi!”.

“Tapi sebalum hamba memeriksa baginda, coba baginda terangkan apa yang baginda keluhkan.”

“Tubuh saya terasa nyeri, tangan dan kaki pegal-pegal,” ujar Baginda Harun al-Rasyid menjelaskan.

Beberapa saat kemudian, Abu Nawas memeriksa baginda Harun al-Rasyid yang terbaring di atas ranjang.”Bagaimana Abu Nawas, apakah kamu bisa menyembuhkan penyakit saya ini?” Tanya Baginda kemudian.

Abu nawas tidak langsung menjawab. Ia tampak berpikir keras. Setelah beberapa saat kemidian, ia baru menjawab,”Baiklah baginda, hamba akan mencobanya. Tapi berilah hambaa kesempatan dua hari untuk meramu resep obat yang terbaik buat baginda.”

Maklum, karena Abu Nawas bukan seorang tabib, ia pun sebenarnya bingung, resep apa yang akan diberikannya kapada Baginda Harun al-Rasyid. Karena itu tak heran dalam perjalanan pulang ia tampak merenung terus-menerus. Karena berpikir terus-menerus untuk menemukan resep obat yang akan diberikan kepada Baginda Sultan Harun al-Rasyid, ia nampak letih. Maka segera saja ia beristirahat duduk di bawah pohon.

Sambil duduk sendirian, ia terus berpikir itulah, ia melihat tak jauh dari tempatnya duduk itu ada seorang laki-laki yang sudah cukup tua memetik buah-buahan di kebun kurma sendirian. Abu Nawas menjadi heran, mengapa orang yang sudah lanjut usia itu memetik buah kurma sendirian, padahal cukup banyak sekali jumlahnya? Karena itu, Abu Nawas bergegas mendekatinya.

“Assalamu’alaikum,” kata Abu Nawas memberi salam.

“Wa’alaikum salam,” jawab lelaki tua itu.

“Tuan, mengapa tuan memetik buah-buah kurma yang banyak ini sendirian, lalu dimana anak-anak tuan?” Tanya Abu Nawas.

“Anak-anak kami sekarang sedang berjualan di pasar,” jawab lelaki tua itu.

“mengapa tidak menunggu kedatangan mereka saja dari pasar, sehingga dapat membantu tuan memetik buah-buah kurma ini?” tanya Abu Nawas.

“Ya, Benar katamu itu. Tapi aku masih sanggup memetik buah-buah ini sendirian,” jawab lelaki tua itu.

“Tapi bukan tuan cukup tua untuk melakukan pekerjaan ini sendirian?” tanya Abu Nawas.

“Tidak, tidak, Nak!” tukas lelaki tua itu. “Bahkan bila akuyu menganggur dan berdian diri saja di rumah, badanku terasa nyeri, pegal-pegal dan sakit semua. Jadi aku melakukan pekerjaan ini, berarti secara tidak langsung aku telah menggerakkan badanku sehingga badanku menjadi sehat.”

“Wauw, begitu! Maklumlah bila tuan yang sudah tua ini masih tampak kelihatan sehat dan segar bugar,” gumam Abu Nawas seraya memohon diri.

Tanpa sengaja, pertemuannya dengan lelaki tua itu membawanga hikmah tersendiri bagi Abu Nawas. Karena itu, Abu Nawas pun langsung berfikir,”Jangan-jangan Baginda Harun al-Rasyid merasakan badannya sakit-sakit dan pegal-pegal semua itu karena beliau tidak pernah berolah raga atau menggerakkan badannya.”

Abu Nawas kini menemukan apa yang menjadi penyebab Baginda Harun al-Rasyid sakit. Yaitu karena Baginda selama ini jarang menggerakkan badannya karena saat ia menginginkan sesuatu ia hanya menyuruh para pengawalnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Sehingg peredaran darahnya tidak lancer dan akhirnya menjadi sakit.

Karena itu, Abu Nawas segera mencari akal bagaimana caranya Baginda Harun al-Rasyid mau menggerakkan badan biar sehat. Tapi bagaimana caranya?.

Abu Nawas seharian penuh berwajah murung di rumah. Makanan yang disediakan istrinya tak disentuhnya. Ia mengurung diri di dalam kamar.

Lewa tengah malam barulah wajahnya tampak cerah. Rupanya ia telah menemukan akal. Tidurlah ia malam itu dengan lelap.

Esok harinya, Abu Nawas berangkat menuju istana. Selang beberapa saat kemudian, dia telah sampai. Melihat Abu Nawas dating, Baginda Sultan Harun al-Rasyid gembira hatinya,”Hai Abu Nawas, belum sampai dua hari engkau telah dating lagi ke sini. Apakah engkau sudah membawakan obat untukku?” tanya Sultan Harun al-Rasyid.

“Betul, Baginda,” jawab Abu Nawas.

“Mana obat itu? Aku akan segera meminumnya supaya lekas sembuh,” kata Baginda.

“Ma’afkan hamba baginda. Kali ini hamba dating belum membawa obat yang dapat baginda minum,” jawab Abu Nawas sambil menunduk.” Sebab…!”.

“Sebab apa Abu Nawas, coba engkau katakana?”.

“Sebab obat yang dapat meyembuhankan baginda itu adalah telur unta. Baginda harus minum telur unta itu dua kali sehari,” jawab Abu Nawas.

“Bila demikian, baiklah! Aku akan segera memerintahkan para pengawal untuk mendapatkan telur unta secepatnya,” sahut Baginda Harun al-Rasyid.

“Tidak, Baginda!” tukas Abu Nawas. “Baginda tidak boleh menyuruh para pengawal untuk mencari telur unta tersebut. Tetapi Baginda-lah yang harus mencarinya sendiri. Sebab bila para pengawal yang mencarinya, maka telur unta itu tidak akan mujarab lagi.”

“Kalau seperti itu yang kau sarankan, maka aku akan segara mencarinya,” jawab Baginda Baginda Harun al-Rasid tanpa berpikir panjang.

Dengan sekuat tenaga, Baginda Harun al-Rasyid pun terpaksa bangkit dan berangkat mencari telur unta. Dia menuju ke pasar menemui pedagang telur. Saat pedagang itu ditanya, apakah ia menjaual telur unta, pedagang itu terkejut bukan main. “Mana ada telur unta. Bukankah unta itu tidak bertelur, tapi beranak?” gumam pedagang itu dalam hati. Tapi karena yang bertanya seorang raja, maka pedagang itu diam saja dan menjawab, “Ma’af baginda! Kami tiodak memiliki telur unta. Tapi kami memiliki telur-telur ayam dan unggas!”.

“Tidak!” sahut Baginda Harun al-Rasyid. “Saya tidak butuh telur-telur itu. Yang saya butuhkan telur unta!”.

Baginda Sultan Harun al-Rasyid kemudian melanjutkan pencariannya ke tempat lain. Seluruh pelosok negeri beliau jelajahi. Tapi anehnya, semua orang yang ditanyai hanya terbengong-bengong saja. Mereka menjawab tidak memiliki telur unta.

Karena seharian penuh Baginda Harun al-Rasyid berjalan dan berkeliling, tapi tetap saja tidak membuahkan hasil, maka beliau pun memutuskan untuk menghentikan pencariannya. Beliau akan melanjutkan pencariannya mendapatkan tekur unta esok hari.

Namun di tengah perjalanan pulang, Baginda Sultan Harun al-Rasyid berpapasan dengan seorang nenek yang sedang menggendong sebongkok kayu bakar. Baginda berhenti sejenak, dan kemudia bertanya,”ma’af, Nek! Bisakah nenek menunjukkan kira-kira siapakah orang yang memiliki telur unta dan di manakah ia berada?!”.

”Apaa…, telur unta?! Bukankah unta tidak bertelur, melainkan beranak?” jawab si nenek itu keheranan.

Mendengar jawaban si nenek yang demikan itu, Baginda Sultan Harun al-Rasyid baru menyadari bahwa selama ini memang tidak ada unta yang bisa bertelur, tapi mereka semuanya beranak. Sebab binatang yang bertelur itu tidak mempunyai daun telinga. Padahal unta itu di mana-mana mempunyai daun telinga sebagai tanda bahwa unta itu berkembang biak dengan cara melahirkan. Maka saat itu pula, Baginda Harun al-Rasyid menjadi sadar bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh Abu Nawas.

Merasa si nenek yang ada dihadapnnya itu telah memberikan keterangan yang menyadarkan dirinya, maka Baginda Sultan Haru al-Rasyid memohon agar kayu bakar yang dibawa si nenek berkenan dibawakannya. Tanpa basi-basi lagi, Baginda Harun al-Rasyid langsung membawa sebongkok kayu bakar tersebut dan berjalan di belakang si nenek hingga rumahnya. Setelah itu, beliau kembali ke istana.

Hati baginda Harun al-Rasyid menjadi gusar karena dia telah dipermainkan oleh Abu Nawas. Namun karena beliau merasa letih dan malam pun segera tiba, maka beliau pun langsung berangkat tidur. Malam itu, beliau tidur sangat pulas sekali.

Esok harinya, beliau nampak segar bugar dan anehnya sakit dan pegal-pegal yang dideritanya telah hilang. Beliau lalu menyuruh para pengawal untuik memanggil Abu Nawas untuk menghadap.

Tak lama kemudian, Abu Nawas pun telah menghadap Baginda. ”Assalamu’alaikum,: ucap Abu Nawas memberi salam.

”Waalaikum’salam,” jawab Baginda.

”Bagaimana Baginda, apakah Baginda telah menemukan telur unta yang hamba anjurkan,” tanya Abu Nawas.

”Rupanya engkau telah memepermainkan saya, ya?” jawab Baginda dengan nada marah.

”Apa yang Baginda maksud, saya tak mengerti?” tukas Abu Nawas tanpa merasa bersalah.

”Engkau menyuruhku untuk mencari telur unta, bukankah selama ini unta tidak ada yang bertelur, malainkan beranak?”.

Abu Nawas pun kemudian baaru mencaritakan pengalamannya bertemu dengan seorang lelaki tua pemetik buah-buahan kurma di kebun hingga memperoleh hikmah bahwa anggota badan yang tidak pernah digerakkan, akan membuat orang sakit. Pengalaman itulah yang kemudian ingin diterapkan kepada Baginda, supaya Baginda mau menggerakkan anggota badannya maka caranya dengan mencari telur unta sendirian dan tak boleh diwakilkan. ”Tentu saja baginda tidak akan menemukan telur unta itu. Sebab tidak akan mungkin ada binatang unta yang bertelur. Tapi bukankah sekarang Baginda sudah merasa lebih enak sekarang?” tanya Abu Nawas kemudian.

”Benar…, benar sekali apa yang kamu katakan itu Abu Nawas,” jawan baginda yang sudah tidak lagi marah karena mendengar penjelasan Abu Nawas seperti itu.”Aku sekarang merasakan badan menjadi lebih segar. Bahkan aku semalam dapat tidur pulas sekali dan pagi tadi aku makan terasa lezat sekali.”

”kalau begitu betullah Baginda, bahwa ada pepatah mengatakan,’Wamaalladzatu illa ba’dat-ta’bi’. Yaitu bahwa ’Tidak ada kelezatan kecuali seelah kepayahan’,” sahut Abu Nawas.

Baginda Harun al-Rasyid hanya tertawa dan geleng-geleng kepala karena kagum atas kecerdikan dan kepandaian Abu Nawas. Saat itu pula Abu Nawas langsung mendapatkan hadiah uang emas yang banyak karena ia telah mampu menyembuhkan sakit Baginda Sultan Harun al-Rasyid.

Beri tanggapan

Your response: